Mengapa Mata Uang Dunia dan Nilai Kurs Negara Beda-beda

Posted on

Mengapa Mata Uang Dunia dan Nilai Kurs Negara Beda-beda

Mengapa Mata Uang Dunia dan Nilai Kurs Negara Beda-beda – Saat melihat daftar kurs mata uang entah online di internet, televisi, koran maupun media lain, selain mendapati nama mata uang Rupiah yang disingkat IDR, Dolar amerika menjadi USD, Euro jadi EUR, dan seterusnya (Penyingkatan seperti ini berdasarkan ISO 4217), kita juga akan menemukan perbedaan nilai tukar antar uang satu ke lainnya. Yaiyalah, namanya juga kurs, kalau sama ngapain ditukar? Eh tapi, kalau nilai tukarnya setara, masih ada kemungkinan ditukar karena mata uangnya beda.

Kenyataannya yang sudah ada, mata uang dan nilai tukarnya tiap negara-negara di dunia ini beda-beda (kecuali negara-negara anggota Uni Eropa, mereka kompak menggunakan Euro. Kawasan pengguna mata uang ini disebut Eurozone). Maka dari itu kali ini Uang Indonesia akan coba menjawabnya berdasarkan ringkasan dari beberapa sumber. Semoga bermanfaat dan sedikit membantu bagi orang awam seperti saya sendiri yang sedang bingung mempertanyakannya. Oke langsung saja berikut ini…

Penyebab Nama Mata Uang Tiap Negara Di Dunia ini Bisa Beda-Beda

Pengebab yang utama tentu karena beda tempat dan beda kisah sejarahnya. Ingat artikel yang berjudul Asal muasal nama rupiah kan? Seperti itu contohnya. Sejarah uang zaman dulu sebelum berbentuk kertas seperti sekarang kan pakai emas dan perak. Nah karena masing-masing tempat memiliki bahasa yang berbeda, tentu menyebut emas dan perak pun dengan nama yang berbeda. Rupiah, mata uang Indonesia sendiri berasal dari bahasa Mongolia. Bahasa aslinya Rupia, tanpa huruf “h”, artinya perak. Seiring perjalanan waktu, karena pelafalan orang Jawa lebih gampang dengan “h”, maka jadilah Rupiah sebagai mata uang Indonesia yang resmi sampai saat ini.

Begitu pula dengan mata uang India, rupee. Asalnya dari bahasa Mongolia juga. Namun karena bahasa dan pelafalan orang sana, terbentuklah kata Rupee.

Sedangkan dolar, mata uang Amerika, asalnya berasal dari kata “thal”. Mengambil dari akhiran kata di Joachimsthal. Joachimsthal adalah lembah / pertambangan yang menghasilkan koin-koin perak yang dilebur. Perak-perak ini nilainya setara dengan emas. Oh ya hasil tambang dari Joachimsthal disebut Joachimsthalers. Nah oleh orang Amerika, pengucapan thaler sedikit mirip dengan dollar.

Ketiga contoh di atas tentu sekedar sejarah singkatnya saja. Fakta yang terjadi sejarah nama mata uang tidak sesingkat itu. Bahkan mungkin ada juga negara yang nama mata uangnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan nama emas maupun perak. Siapa tau?

Setelah perbedaan-perbedaan nama mata uang tersebut terbentuk, mereka tetap mempertahankannya meskipun sekarang sudah zaman globalisasi. Alasannya adalah sebagai berikut:

  • Biar menjadi ciri khas suatu negara.
  • Biar tidak saling tertukar antar satu negara dengan negara lainnya.
  • Biar tidak terjadi penjiplakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
  • Karena pengaruh permintaan & penawaran. jadi saat itu negara Inggris lah yang mempelopori adanya uang, dan negara-negara lain pun berunding untuk membuat uang.. perwakilan negara mengajukan keinginan uangnya masing-masing . Jadi, itu membuat mata uang disetiap negara berbeda-beda.

Penyebab Nilai Tukar Mata Uang / Kurs Tiap Negara Beda-beda

Setelah mengetahui alasan mengapa mata uang masing-masing negara di dunia ini beda-beda, sekarang saatnya kita berlanjut membahas nilainya. Sudah tau kan kalau kita mau menukar mata uang kita (rupiah) ke mata uang lainnya, pasti nanti ada perubahan nominalnya juga. Perbedaan-perbedaan seperti ini menyebabkan ada mata uang yang nilainya murah, ada pula yang mahal. Simak 6 poin berikut ini yang menjadi alasannya. Saya kutip dari sumber www.investopedia.com : 6 Factors That Influence Exchange Rates, by Jason Van Bergen

Baca lainnya: Alasan Dolar Amerika Bisa Menjadi Mata Uang Internasional dan dipakai untuk pembanding kurs

  • 1. Penyebab Perbedaan Nilai Mata Uang Antar Negara yang Pertama adalah karena tingkat inflasi pada negara tersebut bereda.

Negara yang tingkat inflasinya konsisten rendah, secara otomatis daya beli uang tersebut semakin kuat. Dan bila dibandingkan dengan mata uang negara lain yang inflasinya tinggi, pasti akan lebih mahal.

  • 2. Penyebab yang kedua adalah perbedaan tingkat suku bunga pada masing-masing negara.

Suku bunga, inflasi dan nilai tukar sangat berhubungan erat. Dengan merubah tingkat suku bunga, bank sentral suatu negara bisa mempengaruhi inflasi dan nilai tukar mata uang. Suku bunga yang lebih tinggi akan menyebabkan permintaan mata uang negara tersebut meningkat. Investor domestik dan luar negeri akan tertarik dengan return yang lebih besar. Namun jika inflasi kembali tinggi, investor akan keluar hingga bank sentral menaikkan suku bunganya lagi. Sebaliknya, jika bank sentral menurunkan suku bunga maka akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut

  • 3. Penyebab perbedaan yang ketiga adalah Neraca perdagangan antara 2 negara berisi semua pembayaran dari hasil jual beli barang dan jasa.

Neraca perdagangan suatu negara disebut defisit bila negara tersebut membayar lebih banyak ke negara partner dagangnya dibandingkan dengan pembayaran yang diperoleh dari negara partner dagang. Dalam hal ini negara tersebut membutuhkan lebih banyak mata uang negara partner dagang, yang menyebabkan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap negara partnernya melemah. Keadaan sebaliknya disebut surplus, dimana nilai tukar mata uang negara tersebut menguat terhadap negara partner dagang.

  • 4. Penyebab perbedaan yang keempat adalah hutang publik (Public debt)

Neraca anggaran domestik suatu negara digunakan juga untuk membiayai proyek-proyek untuk kepentingan publik dan pemerintahan. Jika anggaran defisit maka public debt membengkak. Public debt yang tinggi akan menyebabkan naiknya inflasi. Defisit anggaran bisa ditutup dengan menjual bond pemerintah atau mencetak uang. Keadaan bisa memburuk bila hutang yang besar menyebabkan negara tersebut default (gagal bayar) sehingga peringkat hutangnya turun. Public debt yang tinggi jelas akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.

  • 5. Penyebab perbedaan yang kelima adalah ratio harga ekspor dan harga impor.

Jika harga ekspor meningkat lebih cepat dari harga impor maka nilai tukar mata uang negara tersebut cenderung menguat. Permintaan akan barang dan jasa dari negara tersebut naik yang berarti permintaan mata uangnya juga meningkat. Keadaan sebaliknya untuk harga impor yang naik lebih cepat dari harga ekspor.

  • 6. Penyebab perbedaan yang keenam adalah kestabilan politik dan ekonomi

Para investor tentu akan mencari negara dengan kinerja ekonomi yang bagus dan kondisi politik yang stabil. Negara yang kondisi politiknya tidak stabil akan cenderung beresiko tinggi sebagai tempat berinvestasi. Keadaan politik akan berdampak pada kinerja ekonomi dan kepercayaan investor, yang pada akhirnya akan mempengaruhi nilai tukar mata uang negara tersebut.

Kira-kira begitulah info yang saya miliki mengenai penyebab alasan perbedaan mata uang dan nilainya. Semoga gaya tulisan saya mudah dipahami. Kalau ada kritik atau saran, langsung sampaikan saja ke KONTAK. Besok kalau ada kesempatan, kita bahas yang masih ada hubungannya dengan topik sekarang ini, 10 Daftar Mata Uang Tertinggi atau Terendah Di Dunia.

Gravatar Image
Konten dilindungi DMCA

One thought on “Mengapa Mata Uang Dunia dan Nilai Kurs Negara Beda-beda

  1. Intinya karena uang kertas yang ada saat ini mengadopsi mekanisme gharar, sehingga hilanglah keberkahannya, sedangkan keberkahan adalah sesuatu yang terus dan terus bertambah.

    Rakyat pun tidak pernah tahu apakah nilai yang tercantum misal sebesar 10.000 Rupiah didukung/disandarkan dengan jumlah emas atau perak yang setara dengan nilai pada secarik kwitansi (uang kertas) tersebut atau tidak. Rakyat tak pernah tahu, pemerintah pun tak pernah memberi tahu.

    Padahal Indonesia diketahui memiliki cadangan emas terbesar no. 2 di dunia. Baik dari segi produksinya maupun jumlah SDA berupa emas di dalam tanah.

    Tapi tak membuat ekonomi rakyat membaik, semua kemajuan ekonomi di televisi dan media cetak hanya data statistik belaka, ini lantaran dicabutnya keberkahan atas pemasukan negara karena membiarkan, memfasilitasi, bahkan negara secara sadar menjadi pelaku Gharar dan Riba itu sendiri.

    Allahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *