Duka-duka jual beli online dari sudut pandang pembeli
jual beli online via google.com

Duka-duka jual beli online dari sudut pandang pembeli

Posted on

pPertumbuhan jual beli online sudah menjamur seperti panu pada tubuh Miftahuddin tetangga saya. Di kaskus, blog, dan media lain, suka dan dukanya sudah banyak di bahas dari sudut pandang penjual. Hal ini mungkin dikarenakan penjual lebih banyak menghabiskan waktu di internet sambil menjaga/menunggu lapak dibanding pembeli yang mungkin profesinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia maya.

Meskipun tidak menyebut nama secara langsung, penjual-penjual online sering menceritakan “kekonyolan” pembelinya. Pada akhir paragraf, mereka menceritakan kebesaran hati dirinya: meskipun kesal, tetapi tetap melayani pembeli dengan mulut manisnya. Tidak lupa juga kata “semangat” dijadikan semboyan yang kalau saya baca seakan-akan dapat bayangkan mereka mengucapkannya sambil mengepal telapak tangannya ke atas (padahal belum tentu).

Saya tau memang ada pembeli online yang konyol dan bikin kesal. Saya tau karena kalau butuh uang dan punya barang yang sekiranya bisa diduitkan, saya menjual barang tersebut secara online. Jadi sedikit-sedikit saya tau (atau lebih tepatnya sok tau, hehe).

Namun, tidak sekali-dua-kali doang saya juga bertindak sebagai pembeli online. Dan ternyata, tidak sedikit juga penjual online yang bikin kesal pembeli. Di antaranya yang uangindonesia.com rangkum berikut ini.

Beberapa kekurangan pelayanan penjual online yang bikin pembeli kesal

1. Foto nyomot di Google

Tidak akan jadi masalah meskipun gambar produknya nyomot dari Google kalau memang barang dagangannya baru. Namun kalau seken? Soal deskripsi kondisi barang tidak usahlah saya bahas. Kita semua sudah memaklumi siapapun pasti menceritakan hal yang baik-baik pada dagangan masing-masing. Asal tidak kelewatan sebenarnya sih tidak masalah.

Baca juga: 4 tipe orang dalam menggunakan uang

2. Mendengung-dengungkan jargon “jadilah smart buyer” sampai lupa “smart seller

Entah amatir atau memang pemalas, ada juga penjual online yang tidak menuliskan deskripsi barang dengan lengkap. Di bawah gambar produknya cuma tertulis spesifikasi yang copas dari Google disusul kalimat: “Barang mulus pemakaian masih 4 bulan. Untuk order silakan langsung kirim pesan via whatsapp 08xxxxxxxxx dengan format nama#alamat#bla.bla.bla. Jadilah smart buyer.”

Meskipun mencantumkan nomor whatsapp, penjual model ini tidak mau chatting. Mereka maunya langsung dikirimi format. Padahal, barang mulus belum tentu performa tidak cacat. Siapa tau pembeli butuh memastikan hal itu.

Maksud saya pada poin ini adalah pembeli sebaiknya menuliskannya sangat lengkap pada halaman lapaknya. Jadi kalau ada pembeli yang nanya ini itu bisa langsung dikasih link agar dibaca sendiri. Penjual offline saja kadang sampai ngasih tau cara pakainya ke pembeli kok. Dan di belakang, tidak pernah koar-koar ini itu menceritakan “aib” pembeli.

Sekali lagi ini beberapa penjual, bukan semua. Dan mungkin penjual offline ada juga yang koar-koar (tetapi mungkin secara offline juga, jadi pembaca/pendengarnya terbatas).

3. Menagih seperti hutang

Pembeli menanyakan kondisi barang tidak dilayani oleh penjual. Namun giliran menanyakan nomor rekening, sangat fast respon.

Pembeli bertanya, “Barang A masih ready gak?” Penjual balas, “Ready. Silakan order, transfer ke bank A, dan kemudian konfirmasi via whatsapp dengan format bla-bla-bla.”

Baca juga: Cara membeli smartphone, laptop, dan gadget lainnya agar lebih hemat

Pembeli nanya lagi, “Ada rekening bank B saja gak? Soalnya transfer antar bank via internet banking harus dalam jumlah besar. Dan bank B tidak ada layanan sms banking untuk transfer antar bank. Mau ke ATM jauh, macet, dan masih kerja.”

Penjual jawab, “Tidak ada.” Kemudian hening setengah jam. Sambil kerja, pembeli masih ngusahain transfer antar bank seperti misalnya: sedang mengusahakan instal aplikasi m-banking agar bisa transfer antar bank.

Namun, tiba-tiba tumben, penjual yang nge-chat duluan. “Bagaimana, jadi order gak?” Ada orang lain yang juga minat nih. Dia sudah siap transfer. Namun karena Agan yang duluan mau order, jadi saya masih menunggu Agan.”

Pokoknya penjual amatir ini jadi sering kirim pesan duluan dan selalu bilang ada orang lain yang minat. Namun entah mengapa tidak berani memutuskan untuk memberikan barangnya ke orang lain saja meskipun sebenarnya calon pembeli sudah setengah ikhlas.

4. Kapan pun transfer berhasil, barang dikirim weekend

Dengan berbagai cara pembeli mengusahakan transfer antar bank. Setelah berhasil dan konfirmasi pembayaran, penjualnya menjawab, “Terima kasih, Bos (tadi nyebutnya Agan, sekarang berubah menjadi Bos), pembayaran ntar saya cek dulu apa sudah masuk atau belum. Kalau beneran masuk, barang akan saya kirim hari sabtu. Tungguin ya….”

Pembeli bertanya lagi, “Lah kenapa tidak sekarang saja? Ini hari kamis. Kalau harus nunggu sabtu ya lama.”

Pejual balas, “Mohon maaf Bos, saya juga sibuk kerja. Di Tokop*dia, Bukala*ak, dan lainnya saja boleh seperti itu loh.

Oke, empat poin saja dulu. Kalau masalah lebih banyak penjual online yang menipu daripada pembeli (sudah transfer tapi barang tidak dikirim dan malah delete contact), saya anggap itu kesalahan pembeli yang kurang teliti.

Saya yakin tidak semua pembaca setuju dengan tulisan di atas. Sekali lagi saya tekankan tidak semua penjual seperti itu, hanya sebagian saja. Intinya sih, kalau mau belanja cepat, datang ke toko secara langsung masih menjadi pilihan yang terbaik menurut saya, apalagi jika tokonya tidak terlalu jauh.

Baca juga: Benarkah membeli smartphone mahal justru lebih hemat? Berikut penjelasan dan perkiraannya

Gravatar Image
Konten dilindungi DMCA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *